Sabtu, 02 Juni 2012

Praktikum Fisika SMA

Seringkali siswa ingin mengetahui hasil dari praktikum yang akan dilakukan. Langkah ini dilakukan agar nanti sewaktu pengerjaannya diperoleh data dan hasil yang benar dan tentu saja nilai yang bagus. Oleh karena itu, di sini saya postingkan beberapa laporan siswa yang telah melakukan praktikum sebelumnya sehingga dapat dijadikan acuan dan perbandingan dengan praktikum yang aakan dilakukan. Semoga bermanfaat.

Soal dan Pembahasan UN SMA FISIKA



Sejarah
 


Ujian Nasional yang disingkat UN kerap menjadi momok yang menakutkan bagi banyak siswa. Banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk sukses menghadapi UN. Baik itu upaya jelek atau upaya yang baik. Para siswa itu rela mengikuti les-les seharian penuh bahkan ada yang sampai malam. Mereka rela mengikuti hal tersebut untuk mendapatkan selembar kertas yang berisi angka-angka yang melebihi standar kelulusan. Bahkan untuk mensukseskan Ujian Nasional, tak jarang para siswa maupun guru melakukan kecurangan-kecurangan.

Periode 1950-1960-an
Pada periode ini ujian kelulusan disebut dengan ujian penghabisan dan diadakan secara nasional serta soal-soal dibuat oleh Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Soal-soal yang diujikan berbentuk essai dan hasil ujian diperiksa di pusat rayon.

Periode 1965-1971
Pada periode ini semua mata pelajaran diujikan dalam hajat yang disebut ujian negara. Bahan ujian dibuat oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk seluruh wilayah di Indonesia. Waktu ujian juga ditentukan oleh pemerintah pusat.

Periode 1972-1979
Pada periode ini pemerintah memberi kebebasan untuk setiap sekolah atau kelompok sekolah menyelenggarakan ujian sendiri. Pembuatan soal dan penilaian dilakukan masing-masing sekolah atau kelompok sekolah. Pemerintah hanya menyusun pedoman dan panduan yang bersifat umum.

Periode 1980-2001
Pada Periode ini mulai diselenggarakan ujian akhir nasional yang disebut Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Model ujian akhir ini menggunakan dua bentuk yaitu Ebtanas untuk mata pelajaran umum dan Ebta untuk mata pelajaran non-ebtanas. Ebtanas dikoordinasikan oleh pemerintah pusat dan Ebta dikoordinasi oleh pemerintah provinsi. Kelulusan ditentukan oleh kombinasi dua evaluasi tadi ditambah nilai ujian harian yang tertera di buku rapor. Dalam Ebtanas siswa dinyatakan lulus jika nilai rata-rata seluruh mata pelajaran yang diujikan adalah enam. Meskipun terdapat nilai di bawah tiga.

Periode 2002-2004
Pada periode ini Ebtanas diganti dengan nama Ujian Akhir Nasional (UAN) dan standar kelulusan tiap tahun berbeda-beda. Pada UAN 2002 kelulusan ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual. Pada UAN 2003 standar kelulusan adalah 3.01 pada setiap mata pelajaran dan nilai rata-rata minimal 6.00. Soal ujian dibuat oleh Depdiknas dan pihak sekolah tidak dapat mengatrol nilai UAN. Para siswa yang tidak/belum lulus masih diberi kesempatan mengulang selang satu minggu sesudahnya. Pada UAN 2004, kelulusan siswa didapat berdasarkan nilai minimal pada setiap mata pelajaran 4.01 dan tidak ada nilai rata-rata minimal. Pada mulanya UAN 2004 ini tidak ada ujian ulan bagi yang tidak/belum lulus. Namun setelah mendapat masukan dari berbagai lapisan masayarakat, akhirnya diadakan ujian ulang.

Periode 2005-sekarang (2010)
Pada periode ini UAN diganti namanya menjadi Ujian Nasional (UN) dan standar kelulusan setiap tahun pun juga berbeda-beda. Pada UN 2005 minimal nilai untuk setiap mata pelajaran adalah 4.25. Pada UN 2005 ini para siswa yang belum lulus pada tahap I boleh mengikuti UN tahap II hanya untuk mata pelajaran yang belum lulus. Pada UN 2006 standar kelulusan minimal adalah 4.25 untuk tiap mata pelajaran yang diujikan dan rata-rata nilai harus lebih dari 4.50 dan tidak ada ujian ulang. Pada UN 2007 terdapat dua kriteria kelulusan yaitu;  Nilai rata-rata minimal 5.00 untuk seluruh mata pelajaran dengan tidak ada nilai di bawah 4.25. Jika nilai minimal 4.00 pada salah satu mata pelajaran yang diujikan maka nilai pada dua mata pelajaran linnya adalah 6.00.
Pada UN 2007 ini tidak ada ujian ulang. Dan bagi yang tidak lulus disarankan untuk mengambil paket c untuk meneruskan pendidikan atau mengulang UN tahun depan. Pada UN 2008 mata pelajaran yang diujikan lebih banyak dari yang semula tiga, pada tahun ini menjadi enam. Standar kelulusan pada tahun ini terdapat dua kriteria yang hampir sama dengan tahun 2007 hanya saja terdapat penambahan nilai rata-rata minimal menjadi 5.25. Penambahan mata pelajaran pada UN 2008 ini karena BSNP mendapat masukan, bahwa ada ketidakseimbangan tingkat keseriusan antara mata pelajaran yang di-UN-kan dan yang tidak. Pada UN 2009 standar untuk mencpai kelulusan, nilai rata-rata minimal 5.50 untuk seluruh mata pelajaran yang di-UN-kan, dengan nilai minimal 4.00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4.25 untuk mata pelajaran lainnya. Pada UN 2010 tahun ini, standar kelulusannya adalah;  Memiliki nilai rata-rata minimal 5.50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4.0 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4.25 untuk mata pelajaran lainnya.  Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran praktek kejuruan minimal 7.00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.

Berikut ini Soal dan Pembahasan UN SMA Fisika dari 1988 hingga 2011
1. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1988 Download Disini
2. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1989 Download Disini
3. Ujian Nasiona SMA l Fisika Tahun 1990 Download Disini
4. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1991 Download Disini
5. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1992 Download Disini
6. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1993 Download Disini
7. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1994 Download Disini
8. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1995 Download Disini
9. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1996 Download Disini
10. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1997 Download Disini
11. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1998 Download Disini
12. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 1999 Download Disini
13. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2000 Download Disini
14. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2001 Download Disini
15. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2002 Download Disini
16. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2003 Download Disini
17. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2004 Download Disini
18. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2005 Download Disini
19. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2006 Download Disini
20. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2007 Download Disini
21. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2008 Download Disini
22. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2009 Download Disini
23. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2010 Download Disini
24. Ujian Nasional SMA Fisika Tahun 2011 Download Disini

Soal dan Pembahasann Buku Fisika SMA (Marthen Kanginan)

Kelas X Fisika SMA Karangan Marthen Kanginan


Download :
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Gerak Lurus Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Kinematika Gerak Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Gerak Melingkar Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Dinamika Partikel Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Hukum Newton Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Gelombang Elektromagnetik Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas X Bab Listrik Dinamis Download Disini

Kelas XI Fisika SMA Karangan Marthen Kanginan


Download :
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XI Bab Kinematika Vektor Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XI Bab Elastisitas dan Gerak Harmonis Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XI Bab Dinamika Rotasi dan Keseimbangan Benda Tegar Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XI Bab Mekanika Fluida Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XI Bab Hukum Newton Tentang Gravitas Download Disini

Kelas XII Fisika SMA Karangan Marthen Kanginan


Download :
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Gejala Gelombang Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Cahaya Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Bunyi Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Induksi Elektromagnetik Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Listrik Statis Download Disini
Soal dan Pembahasan Fisika SMA Kelas XII Bab Medan Magnetik Download Disini

Viskositas zat cair

Tujuan :
Mengetahui hasil pengamatan dan percobaan viskositas zat cair yang telah dilakukan sebelumnya

Alat dan bahan
1. Perangkat praktikum viskositas zat cair
2. Oli
3. Minyak goreng
4. Parafin cair
5. Bola besi berbagai ukuran
6. Mistar panjang
7. Stopwatch
8. Neraca ohauss
9. Mikrometer sekrup

Prosedur Praktukum :
1. Menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
2. Ambil 2 bola yang berbeda ukurannya
3. Timbang masing-masing benda dengan neraca ohauss
4. Ukur diameter masing-masing bola dengan mikrometer sekrup. Hitung jari-jari dan volume kedua bola tersebut
5. Masukkan bola ke-1 pada parafin cair, hitung waktu saat kecepatan konstan dengan stopwatch. Hitung pula jarak saat kecepatan konstan.
6. Masukkan bola ke-2 pada parafin cair, hitung waktu dan jarak saat kecepatan konstan.
7. Lakukan langkah (5) dan (6) hingga 3 kali.
8. Masukkan bola ke-1 pada minyak goreng, hitung waktu dan jarak saat kecepatan konstan.
9. Masukkan bola ke-2 pada minyak goreng, hitung waktu dan jarak saat kecepatan konstan.
10. Lakukan langkah (8) dan (9) hingga 3 kali
11. Tulis data-data yang diperoleh pada tabel.

Download :
Hasil Praktikum Viskositas zat cair v.1
Hasil Praktikum Viskositas zat cair v.2

Penelitian Fisika

PERCOBAAN I : GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN (GLBB)

Tujuan Percobaan : Menyelidiki jenis gerak suatu benda

Alat dan bahan :
1. Sebuah papan luncur
2. Sebuah mobil-mobilan
3. Sebuah ticker timer
4. Sebuah gunting

Langkah Kerja :
1. Pasanglah papan luncur secara miring kemudian letakkan mobilmobilan yang sudah dihubungkan dengan ticker timer diatasnya.
2. Lepaskan mobil-mobilan dan biarkan bergerak turun di sepanjang papan luncur sambil menarik pita ketik.
3. Dari pita ketik yang dihasilkan, berilah tanda untuk setiap lima ketikan. Kemudian potong-potong pita ketik sesuai dengan tanda yang sudah diberikan.
4. Tempatkan potongan-potongan pita ketik tersebut secara berurutan hingga diperoleh diagram batang.
5. Dari diagram tersebut, simpulkanlah jenis gerak yang dilakukan oleh mobil-mobilan tersebut!

PERCOBAAN II : KELEMBAMAN BENDA

Tujuan Percobaan : Menguji sifat kelembaman benda

Alat dan Bahan :
1. Sebuah buku
2. Sebuah kertas

Langkah Kerja :
1. Letakkan sebuah buku di atas sehelai kertas di atas meja.
2. Lalu tariklahkertas itu dengan cepat. Apakah yang terjadi?
3. Ulangi lagi percobaan pertama dengan menarik kertas secara perlahan
4. Bandingkan hasil percobaan pertama dengan percobaan kedua. Jelaskan hasil kesimpulan Anda!

PERCOBAAN III : HUKUM II NEWTON

Tujuan Percobaan : Menghitung percepatan gerak benda dengan menggunakan Hukum II Newton

Alat dan Bahan :
1. Timbangan injak
2. Lift yang sedang beroperasi

Langkah Kerja :
1. Ukurlah berat Anda dengan menggunakan timbangan injak dan catatlah hasilnya
2. Masuklah ke dalam lift yang akan bergerak ke atas, kemudian ukurlah sekali lagi berat badan Anda selama berada dalam lift. Catatlah perubahan nilai yang ditunjukkan jarum timabangan selama rentang waktu tersebut.
3. Tunjukkan data Anda pada langkah 2 ke dalam bentuk grafik berat terhadap waktu.

PERCOBAAN IV : GMB & GMBB

Tujuan percobaan : Menyelidiki contoh GMB dan GMBB

Alat dan Bahan :
1. Sepeda mini
2. Meteran kain / penggaris
3. Stopwatch
4. Saputangan

Langkah Kerja :
1. Berdirikan sepeda mini dengan menggunakan standar berdiri, kemudian ikatkan saputangan pada salah satu tepi roda belakang
2. Ukurlah jari-jari roda
3. Kayuhlah pedal sepeda dengan tenaga yang perlahan namun konstan 5 detik
4. Setelah 5 detik lepaskan kayuhan kemudian hitunglah putaran yang dilakukan roda selama 5 detik

PERCOBAAN V : BAYANGAN TERBALIK PADA CERMIN DATAR

Tujuan Percobaan : Menunjukkan jika bayangan pada cermin datar terbalik

Alat dan Bahan :
1. Cermin
2. Pensil
3. Kertas indeks

Langkah Kerja :
1. Berdirilah menghadap cermin sehingga Anda dapat melihat wajah di cermin
2. Tempelkan kertas di dahimu. Lalu lihat ke cermin , tuliskan nama Anda di kertas tersebut.
3. Balikanlah kertas tersebut dan lihata apa yang anda tulis

PERCOBAAN VI : BAYANGAN MAYA CERMIN DATAR

Tujuan Percobaan : Menunjukkan jika cermin datar mempunyai bayangan maya

Alat dan Bahan :
1. Pensil
2. Penggaris
3. Kertas foto kopi
4. Tanah liat seukuran buah kenari
5. Kertas indeks
6. Cermin datar yang kecil
7. Klip kertas

Langkah Kerja :
1. Gunakan pensil dan penggaris untuk menggambar garis di tengahtengah kertas berukuran 6 inchi (15 cm ) buatlah titik di tengahtengah garis
2. Gunakan sedikit tanah liat untuk meletakan klip kertas di salah satu ujung garis.
3. Gunakan sisa tanah liat untuk menegakan cermin pada titik di garis sehingga cermin menghadap ke klip kertas.
4. Lihatlah di cermin,dan tentukan seberapa jauh bayangan klip kertas yang muncul.
5. Lihatlah di belakang cermin di ujung garis tempat bayangan seharusnya tampak.Pegang kertas indeks di titik ini,dan lihatlah di kertas tanda-tanda bayangan klip kertas.

PERCOBAAN VII : LENSA TIPIS

Tujuan Percobaan : Membuktikan perumusan lensa tipis

Alat dan Bahan :
Sebuah lensa cembung (f =20 cm),
sebuah lilin,
sebuah layer,
mistar,
panjang,
dan tiang-tiang penyangga

Cara Kerja :
1. Susunlah alat-alat percobaan seperti pada gambar
2. Posisikan lilin pada jarak tertentu dari lensa
3. Geser-geserlah layer sampai terbentuk bayangan lilin yang tajam
4. Catatlah jarak lilin ke lensa (so) dan jarak layer ke lensa (s’)
5. Ulangi langkah 2 sampai 4 dengan mengubah jarak benda sampai terambil lima data.
6. Isilah data yang di dapatkan pada table berikut :
7. Buatlah grafik1/s’ terhadap 1/so pada kertas grafik
8. Dari grafik yang didapatkan,buatlah sebuah garis lurus sampai memotong sumbu 1/so.
9. Perhatikan grafik tersebut.Berdasarkan perumusan : 1/f =1/so+1/s’ menyatakan nilai apakah x pada grafik di atas ?
10. Tentukanlah nilai f dari nilai x !
11. Cocokkan data no 10 dengan yang tertera pada bungkus lensa.Bagaimanakah kesimpulan anda ?

PERCOBAAN VIII : PEMANTULAN CAHAYA

Tujuan Percobaan : Membuktikan persamaan pemantulan cahaya

Alat dan Bahan :
1. Sumber cahaya
2. Cermin
3. Kertas karton

Langkah Kerja :
1. Sediakan kotak cahaya dan buatlah sedemikian hingga menghasilkan sebuah sinar pada selembar karton putih!
2. Letakkan kotak sinar cermin dan karton, seperti pada gambar diatas!
3. Buatlah garis normal pada titik tempat jatuhnya sinar di permukaan cermin. ( garis normal tegak lurus terhadap permukaan cermin datar ) !
4. Gambarkan sinar yang jatuh pada permukaan cermin! Sinar ini disebut sinar datang. Gambarkan juga sinar yang meninggalkan permukaan cermin! Sinar ini disebut sinar pantul!
5. Ukurlah sudut antara sinar datang dan garis normal! Sudut ini disebut sudut datang. Ukur juga sudut antara sinar pantul dan garis normal! Sudut ini disebut sudut pantul! Lakukan kegiatan tidak kurang dari lima kali kegiatan, dan masukkan datanya ke table pengamatan!
6. Apa yang dapat disimpulkan dari kegiatan ini?

PERCOBAAN IX : PEMANTULAN SEMPURNA

Tujuan percobaan : Mengamati peristiwa pemantulan sempurna

Alat dan Bahan :
1. Sumber cahaya / lilin
2. Gelas
3. Air

Langkah kerja :
1. Isilah gelas air minum dengan air sampai penuh!
2. Letakkan gelas tersebut di pinggir meja!
3. Nyalakan lilin pendek dan letakkan dekat dengan gelas!
4. Perhatikan gambar diatas ( gelas percobaan )!
5. Amatilah dari arah yang bersebrangan dengan lilin dari arah agak di bawah permukaan! Apa yang anda amati, tuliskan kesimpulan hasil pengamatan!

PERCOBAAN X : PRINSIP KERJA TELESKOP

Tujuan Percobaan : Memahami prinsip kerja teleskop

Alat dan Bahan :
1. 2 buah lensa cembung ( f1 =50 cm dan f2=5 cm)
2. 1 buah lampu pijar
3. 1 buah mistar
4. Kertas Kalkir
5. Lilin (untuk menahan lensa yang diletakan di atas mistar)
6. Meja optik

Langkah Kerja :
1. Simpanlah lampu pijar di sudut ruangan!
2. Letakanlah lensa cembung f1=50 cm sebagai lensa objektif pada mistar!
3. Letakan kertas kalkir sedemikian rupa sehingga bayangan lampu pada kertas sangat jelas!
4. Letakan lensa cembung,f2 = 5 cm sebagai lensa okuler. Atur letak lensa okuler ini sedemikian rupa sehingga mata Anda melihat bayangan lampu pada kertas yang dibentuk lensa okuler sangat jelas!
5. Pindahkan kertas secara tepat dan pandanglah bayangan lampu!
6. Tulis kesimpulan dari kegiatan ini!

Download :
LAPORAN HASIL PENELITIAN FISIKA

Optik (Difraksi)

Tujuan :
Memahami proses pengukuran panjang gelombang cahaya

Alat & bahan :
1. Kotak cahaya 1 buah
2. Pemegang kotak cahaya 1 buah
3. Rel presisi 2 buah
4. Kaki rel 2 buah
5. Penyambung rel 1 buah
6. Kisi difraksi 1 buah
7. Diafragma celah tunggal 1 buah
8. Filter warna 3 buah
9. Layar putih 1 buah
10. Tumpakan berjepit 6 buah
11. Lensa f = +100 mm, bertangkai 1 buah
12. Lensa f = +50 mm, bertangkai 1 buah
13. Pemegang slaid diafragma 2 buah
14. Kabel penghubung 2 buah
15. Catu daya

Prosedur Percobaan :
1. Siapkan peralatan seperti terlihat pada gambar rangkaian percobaan



2. Nyalakan catu daya
3. Atur jarak anatara kotak cahaya dengan lensa f=+50 mm sebesar 5 cm. Lensa ini digunkakan untuk mensejajarkan sinar yang datang dari kotak cahaya.
4. Atur letak lensa f = +100 mm sehingga terbentuk bayangan cahaya tunggal yang tajam pada layar.
5. Letakkan pemegang slaid diafragma di belakang lensa (f=+100 mm), masukkan kisi difraksi ke dalam pemegang celah diafragma.
6. Geserlah kisi mendekati atau menjahui layar. Amati perubahan yang terjadi. Catat pada tabel pengamatan.
7. Masukkan filter warna merah pada celah pemegang diafragma belakang kotak cahaya, kemudian ukurlah besaran-besaran berikut : L = jarak kisi ke layar, y = jarak anatara dua garis yang berada di kiri dan kanan garis utama. Catat hasilnya pada data pengamatan.
8. Ulangi langkah di atas berturut-turut untuk filter hijau dan biru
9. Jika telah selesai, matikan catu daya

Download :
Hasil Laporan Praktikum Optik (Difraksi) 

Laporan Praktikum Fisika Dasar


PRAKTIKUM FISIKA DASAR I :

Menentukan Percepatan Gravitasi dengan Metode Bandul Matematis

Tujuan Praktikum :
1. Mengetahui prinsip kerja gerak periodic
2. Menentukan percepatan gravitasi metode bandul matematis

Alat-alat yang diperlukan :
1. bandul
2. benang
3. stop watch
4. penggaris busur

Percobaan :
1. Ditentukan sudut percobaan adalah 300 untuk semua panjang tali
2. Panjang tali yang dipergunakan 50 cm, 60 cm, 70 cm, 80 cm dan 90 cm
3. Jumlah getaran yang dihitung waktunya adalah 10, 15, 20 getaran pada setiap masing – masing tali
4. Bandul diikatkan pada tali yang sudah diukur panjangnya sesuai dengan kebutuhan yaitu 50cm, 60cm, 70cm, 80cm dan 90cm kemudian tali diikatkan pada paku yang terdapat pada kayu yang sudah dipersiapkan
5. Bandul diangkat dengan sudut 300 kemudian dilepas bebas sehingga berayun
6. Mulai awal ayunan sampai dengan jumlah ayunan yang ditetapkan dihitung menggunakan stopwatch.
7. Hasil percobaan dicatat dengan table.

PRATIKUM FISIKA DASAR II :

Menentukan Konstanta Pegas Secara Statis dan Dinamis

Tujuan Praktikum :
1. Mengetahui prinsip kerja gerak harmonic sederhana,
2. menentukan nilai konstanta pegas secara statis dan dinamis

Alat – alat yang dipergunakan :
1. Statif
2. Stopwatch
3. Pegas
4. Beban-beban
5. Mistar atau penggaris

Percobaan :
1. Mempersiapkan semua alat percobaan
2. Menimbang massa beban dan massa pegas
3. Pegas dikaitkan pada statip kemudian diukur panjangnya sebelum diberikan beban,
4. Beban dikatkan kepegas yang tergantung, dimulai dari beban terkecil kemudian diukur panjang pegas setelah diberikan beban, kemudian pegas ditarik sedikit kemudian digetarkan hingga 10 getaran,
5. Catat waktu menggunakan stop watch,
6. Mengulang langkah ke 4 dengan cara menambahkan beban dengan cara mengaitkannya pada beban pertama yang telah tergantung,
7. Mengulang langkah ke 5 dan seterusnya sampai dengan 4 (empat) beban
8. Hasil percobaan dicatat dalam table.

PRAKTIKUM FISIKA DASAR III :

Menentukan Nilai Kapasitas Panas Jenis Spesifik Dari Cairan Dengan Metode Pendingin

Tujuan Praktikum :
1.Mengetahui prinsip- prinsip azaz black,
2.Menentukan nilai kapasitas panas jenis spesifik cairan

Alat – alat yang diperlukan :
1. kalori meter
2. isolator kalor
3. gelas ukur
4. thermometer
5. pengaduk
6. timbangan
7. zat cair ( air,minyak tanah)
8. stop wach
9. kaki tiga

Percobaan :
1. mempersiapkan alat percobaan
2. memanaskan minyak tanah sebanyak 100ml didalam gelas ukur hingga mencapai suhu 500c,
3. menimbang kalori meter dan pengaduk kemudian dimasukkan kedalam isolator panas
4. tuang minyak panas kedalam kalori meter
5. mengukur temperature minyak panas setiap menit menggunakan thermometer serta mencatat waktu menggunakan stop watch, hingga suhu 300c
6. menimbang kalori meter bersama minyak didalamnya.
7. hasil percobaan dicatat dalam table
8. percobaan selanjutnya menggunakan air yang dipanaskan dengan langkah seperti diatas.

PRAKTIKUM FISIKA DASAR IV :

Menentukan Besar Kuat Medan Mangnet Kawat Yang Dialiri Arus Listrik Di Suatu Titik

Tujuan Praktikum :
1.Menganalisa adanya medan mangnet disekitar kawat berarus listrik,
2.Menentukan besar kuat medan magnet disuatu titik,
3.Memahami prinsip –prinsip teori Oersted dan Biot-Savart
4.Menyelidiki arah medan magnet disekitar kawat yang dialiri arus listrik,

Alat- alat yang diperlukan :
1.catu daya
2.kabel – kabel
3.papan rangkaian
4.kompas
5.volt meter
6.multitester

Percobaan :
1. mempersiapkan senua alat percobaan,
2. letakkan kompas diatas panel,
3. dalam kondisi catu daya off kabel penghubung negative (-) dari catu daya disambungkan kepapan rangkaian,
4. kabel penghubung positive dari catu daya dihubungkan ke ampere meter dan kabel keluar dari ampere meter dihubungkan dengan seutas kawat penghantar serta satu sisi kawat penghantar dihubungkan dengan kabel positive dari papan panel
5. kawat penghantar tersebut diletakkan melintasi tengah – tengah kompas,
6. posisi catu daya volt DC, kemudian tekan tombol On
7. perhatikan arah dan besar pembelokan dari jarum kompas,
8. hasil percobaan dicatat dalam table,

PRAKTIKUM FISIKA DASAR V :

Hukum ohm dan Hambatan Listrik

Tujuan Pratikum :
1. menyelidiki hubungan antara tegangan arus dan hambatan listrik,
2. menghitung besar hambatan,tegangan dan arus listrik
3. memahami konsep dasar hokum Ohm

Alat – alat yang diperlukan :
1. catu daya
2. kabel –kabel
3. papan rangkaian
4. sakelar
5. ampere meter
6. volt meter
7. hambatan tetap

Percobaan :
1. mempersiapkan semua alat percobaan
2. menghubungkan arus negative (-) dari catu daya ke amper meter,
3. hubungkan kabel amper meter ke resistor,
4. sisi satu resistor dihubungkan dengan volt meter,
5. arus positive (+) dari catu daya dihubungkan dengan volt meter,
6. atur posisi catu daya pada voltage 3 volt, kemudian tekan tombol on,
7. perhatikan besar hambatan pada amper meter dan voltage pada volt meter
8. hasil percobaan dicatat pada table,
9. percobaan dilakukan dengan mengganti resistor seperti urutan diatas serta menambah voltage pada catu daya,
10. percobaan dilaksanakan pada hubungan seri dan pararel,

PRAKTIKUM FISIKA DASAR VI :

Menentukan Kekentalan (viscositas) Fluida Dengan Metode Bola Jatuh

Tujuan Praktikum :
1. Menentukan nilai viscositas (kekentakan) suatu fluida,
2. Memahami konsep dasar hokum stokes,

Alat – alat yang diperlukan :
1. gelas ukur
2. cairan olie
3. cairan gliserin
4. bola – bola
5. stop watch
6. jangka sorong
7. micrometer
8. meteran
9. timbangan
10. thermometer

Percobaan :
1. mempersiapkan semua alat percobaan,
2. timbang masing – masing bola
3. ukur diameter masing – masing bola
4. tuangkan gliserin kadalam gelas ukur sebanyak 900 ml,
5. tuangkan olie kedalam gelas ukur sebanyak 900 ml,
6. ukur suhu gliserin dan olie,
7. masukkan bala satu persatu kedalam gliserin maupun olie serta catat kecepatan bola turun mulai dari permukaan gliserin maupun olie sampai dengan dasar gelas ukur,
8. hasil percobaan dicatat dalam table,
9. percobaan dilakukan kembali sampai empat bola,

PRAKTIKUM FISIKA DASAR VII :

Pembiasan Cahaya

Tujuan Praktikum :
1. menentukan indeks bias zat,
2. menentukan cepat rambat cahaya dalam medium dan pergeseran sinar,
3. memahami konsep dasar hokum snellius,

Alat – alat yang diperlukan :
1. kaca plan paralel,
2. sumber cahaya (senter laser)
3. mistar dan busur derajat,
4. alas meja
5. juru penunjuk
6. spidol

Percobaan :
1. mempersiapkan semua alat percobaan
2. menentukan garis normal A dan B
3. ukur ketebalan kaca plan paralel,
4. menggunakan garis segi tiga dengan sudut 30, menggunakan senter laser cahaya dilewatkan berhimpit dengan penggaris melewati titik A,
5. menandai titik C dan F, mengukur BC,AC,AC dan C,
6. mengulangi langkah diatas dengan kemiringan sudut yang berbeda,
7. hasil percobaan dicatat dalam table,

Download :

Jumat, 01 Juni 2012

Modul Fisika SMA


Info :
Berikut ini saya postingkan modul fisika SMA/MA/SMK hasil karya Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd. Semoga modul ini berguna dan menambah pengetahuan, sehingga dapat menjadi referensi tambahan dalam proses belajar-mengajar di sekolah.
Download :
SMA 10
FISIKA KELAS X BAB 1 PENGUKURAN BERBAGAI BESARAN
FISIKA KELAS X BAB 2 VEKTOR
FISIKA KELAS X BAB 3 GERAK
FISIKA KELAS X BAB 4 GERAK MELINGKAR BERATURAN
FISIKA KELAS X BAB 5 PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

FISIKA KELAS X BAB 6 ALAT-ALAT OPTIK
FISIKA KELAS X BAB 7 KALOR DAN PERPINDAHANNYA
FISIKA KELAS X BAB 8 KONSEP KELISTRIKAN
FISIKA KELAS X BAB 9 GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
SMA 11
FISIKA KELAS XI BAB 1 KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

FISIKA KELAS XI BAB 2 HUKUM NEWTON TENTANG GERAK DAN GRAVITASI
FISIKA KELAS XI BAB 3 GAYA GESEK DALAM DINAMIKA
FISIKA KELAS XI BAB 4 GERAK GETARAN
FISIKA KELAS XI BAB 5 ENERGI USAHA DAN DAYA
FISIKA KELAS XI BAB 6 IMPULS DAN MOMENTUM
FISIKA KELAS XI BAB 7 MOMENTUM SUDUT DAN ROTASI BENDA TEGAR
FISIKA KELAS XI BAB 8 FLUIDA
FISIKA KELAS XI BAB 9 TERMODINAMIKA
FISIKA KELAS XI BAB 10 OPTIKA GEOMETRIK
SMA 12
FISIKA KELAS XII BAB 1 GEJALA GELOMBANG
FISIKA KELAS XII BAB 4 LISTRIK STATIS
FISIKA KELAS XII BAB 10 RELATIVITAS

Aliran Fluida

 Prosedur
Alat
~ ventury meter
~ orifice
~ manometer (pipa U)
~ rotameter / flow meter
~ water meter

Bahan
~ air raksa (Hg)
~ air mengalir pada pipa (bertekanan)
~ udara mengalir dalam pipa

Cara kerja

Ventury meter (untuk air)
~ Isikan air raksa pada manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar
~ Hubungkan ujung-ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) dan pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter, menggunakan pipa plastik. Pipa plastik harus penuh terisi air.
~ Periksa dan catat beda tinggi (H) permukaan air raksa pada manometer.
~ Ukur diamater pipa inlet (A1) dan pipa tenggorokan (A2).
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet (V1), dengan rumus : 2 gH (?1 – ?) V1 = A2 —————-v ? (A12 – A22) dimana : ?1 = massa jenis dalam pipa U ? = massa jenis fluida yang diukur A = luas penampang
~ Hitung pula debit air pada pipa tersebut (debit teoritis). Debit sesungguhnya adalah debit teoritis dikalikan koiefisien koreksi (cd = 0.97) 3.2. Venturymeter (untuk gas)
~ Isikan air raksa pada 2 (dua) buah manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar.
~ Hubungkan satu ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) venturymeter, menggunakan pipa plastik
~ Lakukan hal yang sama pada pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter.
~ Periksa dan catat beda tinggi permukaan air raksa pada kedua manometer tersebut.
~ Ukur diamater pipa inlet dan pipa tenggorokan..
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet, dengan pendekatan rumus : 3.3. Rotameter / flow meter (untuk udara)
~ Letakan tabung rotameter secara vertical. Pastikan bola (pelampung) berada dibawah dan pada posisi skala 0 (nol).
~ Hubungkan (menggunakan pipa plastik) ujung rotameter dengan pipa udara yang akan diukur.
~ Bila kecepatan / kapasitas hembus yang akan diukur, pipa dihubungkan dengan ujung rotameter bagian bawah. Sebaliknya, bila kapasitas isap, pipa dipasang pada ujung atas rotameter.
~ Baca ketinggian bola (pelampung) pada rotameter. Baca dan catat kapasitas udara yang mengalir, dengan bantuan table khusus.
~ Bila tidak tersedia table, maka perlu dilakukan pengukuran :
~ Luas tabung (At) rotameter
~ Luas pelampung (Af)
~ Volume pelampung (Vf)
~ Berat jenis pelampung (Wf)
~ Berat jenis fluida (udara) yang mengalir (Wff)
~ Selanjutnya hitung debit fluida dengan pendekatan rumus :

Aliran Fluida


Prosedur

Alat
~ bola pingpong
~ kapas
~ kompas / wind direction
~ stop watch
~ meteran
~ weir
~ anemometer

Bahan
~ air mengalir
~ udara bergerak

Cara kerja

1. Dye test (untuk air)
~ tentukan saluran air (misal : parit). Pilih yang lurus dan datar.
~ Ukur sepanjang saluran dengan panjang tertentu (s) dan berilah tanda “awal” pada bagian hulu dan tanda “akhir” pada bagian hilir.
~ Celupkan bola pingpong tepat pada tanda “awal”, dan lepaskan.
~ Tunggu sampai dengan bola pingpong tiba tepat di tanda “akhir”. Catat waktu tempuh bola pingpong (t).
~ Hitung kecepatan (v) aliran dengan rumus : v = s / t
~ Selanjutnya ukur kedalaman air dan lebar saluran.
~ Hitung luas penampang basah (A) saluran dan kapasitas / debit air (Q). Dimana Q = V.A.

2. Fly cotton (untuk udara)
~ Tentukan arah aliran / gerakan udara, dengan cara menerbangkan kapas. Gunakan kompas atau wind direction untuk menentukan arah sesuai mata-angin.
~ Ukur memanjang aliran sepanjang tertentu (j), dan tentukan titik awal dan titik akhir.
~ Lepaskan beberapa helai kapas tepat di titik awal. Biarkan terbang sampai dengan tiba dititik akhir, catat waktu tempuh (w).
~ Hitung kecepatan aliran udara (k), dengan rumus : k = j / w

3. Weir (untuk kapasitas air)
~ Pilih weir yang sesuai (segiempat, segitiga, trapezium).
~ Pasang pada saluran air yang akan diukur. Usahakan saluran datar, aliran tidak bergejolak, dan memungkinkan ada “terjunan” bila ada bendung (weir).
~ Ukur : lebar mulut weir (B), sudut weir (?), tinggi muka air dari dasar mulut weir (H).
~ Hitung debit air, dengan rumus sbb. : * Weir dengan sudut 90o (segiempat) Q = 2/3 .B.v 2.g.H3 * Weir dengan sudut 35o – 120o (segitiga) Q = 8 /15 . tg (?/2) . v 2.g.H5 3.4. Anemometer (untuk udara)
~ Hidupkan power anemometer (posisi saklar on).
~ Pilih skala kecepatan angin yang sesuai dengan menggeser switch velocity.
~ Arahkan rotor / kipas pada posisi datangnya angin. Arah posisi dikatakan tepat apabila putaran kipas maksimal.
~ Baca skala kecepatan angin. Bila jarum penunjuk (angka digital) mentok, pindahkan switch velocity ke posisi angka lebih tinggi.
~ Catat kecepatan angin dan arah datangnya angin. Matikan power anemometer (off).

Pengukuran Suara

Prosedur
1. Alat
~ Sound level meter (SLM) merk Rion NA/24.
~ Grafik koreksi kebisingan

2. Bahan
~ Suara pada ruang tertentu

3. Cara kerja
~ Kalibrasikan SLM dengan menggeser saklar function dan range ke cal sampai pada posisi muncul 94,0 dBA
~ Posisikan saklar function ke posisi A dan posisikan juga range pada posisi yang paling rendah
~ Ukur bising latar belakang / back ground noise
~ Ukur bising setelah sumber bunyi hidup (air kran)
~ Gunakan grafik koreksi kebisingan ketika selisih baca antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup kurang dari 10, dapat diketahui nilai kebisingan sesungguhnya yaitu nilai sumber bunyi hidup – hasil koreksi.
~ Jika selisih antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup lebih besar dari 10 maka menunjukkan intensitas dari sumber bunyi itu sendiri / kebisingan sesungguhnya = sumber bunyi hidup.

Pengukuran Cahaya

Prosedur
1. Alat
~ Lux meter
~ Alat tulis
~ Kalkulator

2. Bahan
~ Tempat kerja yang akan diukur penerangannya

3. Cara kerja
~ Kalibrasikan alat sehingga pada saat mengukur alat sudah terkalibrasi.
~ Jarak antara pengukur dengan alat 60-90 cm
~ Tinggi alat dari bagian atas permukaan lantai 0,8 m / 8,5 cm
~ Pakaian pengukur berwarna gelap, untuk menghindari adanya pantulan.
~ Deskripsikan tempat yang akan diukur (Panjang ruangan; Lebar ruangan; Tinggi ruangan; Warna dinding; Warna dinding; Warna lantai; Warna atap; Warna pintu; Warna jendela; Cuaca; Jumlah lampu yang ada; Warna perabot; Ventilasi; Jenis dan merk lampu; Daya lampu; dll)
~ Kapan pemeliharaan atau perawatan lampu terakhir
~ Tentukan titik-titik ukurnya secara tepat dan benar
~ Pada saat mengukur semua penghalang dibuka
~ Bila pengukuran di tempat kerja menggunakan system penerangan lampu pendar, pembacaan hasil pengukuran 5 menit setelah lampu dinyalakan
~ Bila suatu ruangan menggunakan penerangan alam dan buatan, maka pengukuran dilakukan dengan :
~ Ukur lebih dahulu cahaya buatan dan alam, semua penutup masuknya cahaya dibuka dan lampu dinyalakan
~ Mengukur penerangan alam, lampu dimatikan dan penutup yang menghalangi semua dibuka
~ Mengukur penerangan buatan, penerangan campuran dikurangi penerangan alam
~ Catat hasil pengukuran
~ Masukkan hasil pengukuran ke dalam rumus, kemudian
dilakukan perhitungan untuk mendapatkan hasil yang merupakan angka kuat penerangan di tempat tersebut.
~ Melakukan pengukuran minimal 3 kali untuk 1 ruangan untuk mendapatkan nilai rata-ratanya

Pengukuran Kelembaban


1. Alat
~ Hygrometer
~ Sling Psychrometer
~ Mistar skala
~ Psychrochart Whirling tabel
~ Diagram psikrometrik
~ Timbangan analit
~ Cawan
~ Desikator
~ Pemanas (oven)

2. Bahan
~ Air
~ Udara ruangan
~ Tanah
~ Sampah, bahan padat lainnya

3. Cara kerja

3.1. Kelembaban udara
~ Deskripsikan tempat kerja yang akan diukur
~ BILA menggunakan Arsman Angket
~ Basahi Sling Psychrometer pada bagian bola basah
~ Putar Sling Psychrometer searah jarum jam selama 3-5 menit sambil mengelilingi ruangan.
~ Baca skala (Thermometer BB dan BK)
~ Hasil pembacaan Thermometer kering dihimpit dengan angka 100 pada skala kelembaban relatif.
~ Dilihat pada angka pembacaan Thermometer basah terhimpit dengan angka berapa pada skala kelembaban relatif
~ Lihat diagram psikrometrik untuk mengetahui kelembaban absolut, relatif dan juga titik embun.
~ BILA menggunakan hygometer, hygrometer dipasang pada tempat yang akan diukur. Beri air/basahi ujung termometer suhu basah.
~ Biarkan selama periode waktu tertentu
~ Baca termometer pada skala temperatur basah (wet) dan skala kering (dry).
~ Hitung selisih temperatur basah dan kering.
~ Baca tabel kelembaban relativ (RH = relative humidity). Kelembaban adalah angka pada titik koordinat temperatur kering dan selisih basah-kering..
3.2. Kelembaban tanah / zat padat
~ Timbang cawan yang betul-betul kering (misal: a gram)
~ Ambil sejumlah tanah atau zat padat lainnya. Masukkan kedalam cawan, timbang cawan berikut tanahnya dengan neraca analit (misal : x gram).
~ Keringkan dalam oven dalam suhu 105 oC, selama sampai dengan kering sempurna. Sebagai indikasi kalau ditimbang beratnya sudah stabil.
~ Dinginkan dalam desikator (15 menit) Timbang cawan berikut tanahnya (misal : y gram)
~ Hitung kelembabannya dengan rumus : M = berat awal dikurangi berat akhir x 100% Berat awal M = ((x – a) – (y – a)) x 100% (x – a)
~ BILA menggunakan soil tester (analog / digital), caranya cukup dengan menancapkan probe atau elektroda pada tanah yang akan diukur. Biarkan beberapa saat hingga jarum / angka stabil. Baca skala kelembabannya..

Pengukuran Panas

~ Bomb calorimeter
~ Termometer
~ Pemanas
~ Bejana

2. Bahan
~ air
~ sampah (kertas, daun dll)

3. Cara kerja

3.1. Bomb calorimeter
~ sesuai dengan manual masing-masing type dan merk.

3.2. Termometer
~ Timbang sejumlah air (atau zat lainnya) dengan menggunakan neraca massa (misal : k gram)
~ Sejumlah air dimasukan kedalam bejana.
~ Pasang termometer pada air tesebut. Catat suhu awalnya (misal : loC )
~ Panaskan secukupnya, Kemudian catat suhu akhirnya (misal : moC )
~ Hitung jumlah panas (Q) yang digunakan, dengan pendekatan : Q = k x c x (m – l) Joule. Dimana c adalah kalor jenis, dan 1 Joule = 0,24 kalori.

Pengukuran Temperatur

1. Alat
~ Termometer alcohol
~ Termometer Hg
~ Termometer min-max
~ Termometer pegas
~ Termometer warna
~ Termometer digital (elektroda gelas)

2. Bahan
~ Air
~ Es
~ Dll

3. Cara kerja

3.1. Umum
~ Celupkan atau tempelkan atau dekatkan termometer pada objek (air, udara, dll) yang akan diukur.
~ Biarkan beberapa saat s/d muai alcohol atau muai Hg atau gerak jarum penunjuk atau warna indicator menjadi stabil.
~ Baca derajat temperatur sesuai skala yang ada. Konversikan kedalam derajat Celcius, Fahrenheit, Reamur dan Kelvin dengan factor konversi.
3.2. Termometer min-max
~ Digunakan untuk mengetahui temperatur tertinggi dan terendah dalam kurun waktu tertentu disuatu tempat tertentu
~ Gunakan magnet untuk menggeser indicator batas minimal dan maksimal.
~ Caranya dengan menempelkan magnet tersebut pada titik indicator, dan geser sampai dengan tepat menyentuh fluida / cairan termometer pada skala temeperatur minimal (biasanya sebelah kiri) dan skala temperatur maksimal (biasanya sebelah kanan)
~ Letakan pada lokasi / tempat yang akan diukur, dengan posisi yang pas.
~ Biarkan selama periode waktu tertentu (misal : 24 jam), setelah periode ini indicator akan terdesak keatas.
~ Bacalah temperatur maksimal / minimal, dengan membaca skala posisi indikator dimaksud

Pengukuran Tekanan


1. Alat
~ Barometer
~ Manometer
~ Altimeter
~ Pipa U
~ Pipa kapiler buntu
~ Cawan
~ Slang plastik
~ Mistar

2. Bahan
~ Air raksa
~ Air atau cairan lainnya

3. Cara kerja
3.1. Manometer pipa U
~ Isi pipa U dengan sejumlah fluida (cairan) yang memiliki ? tertentu. Misalnya air raksa, minyak.
~ Hubungkan salah satu lubangnya dengan pipa plastik ke suatu titik pada pipa / bejana yang akan diukur tekanannya. Catat tinggi / beda tinggi permukaan fluida tersebut. Bila ujung yang lain ditutup (dibuat hampa) alat ini dapat digunakan untuk mengukur tekanan absolut.
~ Hitung tekanan dengan rumus p = ?gh, dimana p : tekanan, ?: massa jenis fluida, g : percepatan gravitasi, h : tinggi fluida.

3.2. Barometer tandon tetap
~ Alat ini untuk mengukur tekanan atmosfer, berguna untuk menguji ketelitian altimeter.
~ Isi cawan dengan air raksa.
~ Celupkan mulut pipa kapiler buntu pada air raksa, sampai sedemikian hingga pipa dapat berdiri tegak lurus (bila perlu, dapat digunakan penyangga /statip).
~ Ukur ketinggian naiknya air raksa (Hg) pada pipa kapiler, mulai dari muka air raksa pada cawan. Tekanan atmosfer adalah tinggi air raksa (mm Hg).

3.3. Manometer pegas
~ Pasang manometer pada tempat yang akan diukur. Misalnya pipa air bersih dapat dipasang pada tapping atau kran pipa service.
~ Lakukan pengukuran pada titik yang berbeda.
~ Baca jarum manometer pada skala kg/cm2 atau psi. Konversikan kedalam satuan m H20 atau satuan tekanan lainnya sesuai dengan factor konversi.
~ Untuk pipa air bersih, coba hitung beda tinggi tekan pada masingmasing titik pengukuran.
3.4. Barometer pegas
~ Pasang ditempat tertentu (x). Biarkan beberapa saat sampai kedudukan jarum penunjuk stabil.
~ Baca jarum penunjuk pada skala mBar atau Atm. Bila perlu konversikan ke satuan tekanan lain yang diinginkan. Angka tersebut menunjukan tekanan pada tempat tertentu (Px)
~ Hitung / perkirakan ketinggian (y) tempat tersebut dari muka air laut, menggunakan rumus : ?o g y
~ Px = Po e – Po
~ dimana Po : tekanan udaran pada muka air laut, ?o: massa jenis udara (1,2), g : percepatan gravitasi (9,81).
3.5. Altimeter
~ Tempatkan altimeter dalam posisi datar. Pastikan gelembung nivo tepat ditengah lingkaran. Ini dilakukan di pantai / muka air laut.
~ Atur jarum indicator naik-turun (+ -) pada posisi tepat ditengah, dengan cara memutar tuas pengatur (pemutar besar).
~ Atur jarum skala ketinggian pada posisi 0 (nol) meter, dengan cara menarik keatas sambil memutar tuas pengatur (pemutar kecil).
~ Pindahkan (bawa) altimeter ke tempat / lokasi lain yang akan diukur ketinggiannya. (alat ini mempunyai ketelitian s/d 1 meter)
~ Cari ketinggian (y) tempat tersebut dengan cara memutar / mengatur jarum indicator naik-turun hingga posisinya tepat ditengah. Baca jarum penunjuk skala ketinggian.
~ Hitung tekanan udara pada lokasi dimaksud dengan rumus seperti pada butir 3.4. diatas.

Pengukuran Gravitasi Spesifik


1. Alat
~ Hydrometer
~ Pipa U berskala
~ Gelas ukur 250 ml
~ Neraca massa
~ Alat ukur volume (gelas ukur, meteran, dll).

2. Bahan
~ Air
~ Minyak
~ Pasir
~ Kerikil

3. Cara Kerja
3.1. Umum
~ Ukur massa jenis suatu benda / zat
~ Hitung spesific gravity dengan cara massa jenis zat dibagi massa jenis air.

3.2. Menggunakan pipa U (khusus cair)
~ Pipa diisi air jangan sampai penuh (1/2 nya)
~ Kemudian diisi cairan (minyak) sedemikian rupa hingga terjadi ketinggian yang imbang.
~ Ukur tinggi permukaan air dan permukaan minyak dari batas antara minyak dan air.
~ Hitung spesific gravity minyak dengan cara tinggi air dibagi tinggi minyak.

3.3. menggunakan Hydrometer (khusus cair)
~ Masukan cairan tertentu kedalam gelas ukur 250 ml (jangan sampai penuh)
~ Celupkan hydrometer kedalam cairan tersebut dengan posisi pemberat berada dibawah. Biarkan supaya mengapung stabil.
~ Hitung spesific gravity cairan dengan cara melihat /membaca skala hydrometer tepat pada permukaan cairan.

Pengukuran Massa Jenis

1. Alat
~ Neraca massa / timbangan analit
~ Gelas ukur
~ Pengering / oven
~ Desicator

2. Bahan
~ Air
~ Minyak
~ Pasir
~ Kerikil
~ Sampah, dll

Cara Kerja
~ Bahan / benda ditimbang dengan neraca massa. Untuk pasir dan sejenisnya harus dalam keadaan kering absolut, maka perlu dikeringkan dengan suhu 105 oC dalam oven sampai dengan diperoleh massa yang stabil. Untuk sampah ditimbang apa adanya.
~ Ukur volumenya, masing-masing dengan cara :
~ Volume air, minyak dan sejenisnya diukur dengan gelas ukur
~ Volume benda padat beraturan diukur panjang sisi-sisinya kemudian dihitung volume / isi berdasarkan rumus bangun.
~ Volume benda padat tak beraturan (seperti pasir, kerikil dan sejenisnya) diukur dengan cara (a) masukan air dalam gelas ukur dengan volume tertentu (misal : X ml), (b) masukkan sejumlah pasir / kerikil yang telah ditimbang kedalam gelas ukur, catat penambahan volume air pada gelas ukur dimaksud (misal : Y ml). Volume pasir / kerikil adalah : Y – X Cm3.
~ Volume sampah diukur dengan cara memasukan sampah kedalam takaran. Sampah dipadatkan secara alamiah dengan cara menjatuhkan takaran sebanyak 3 kali.
~ Massa jenis (?) benda /bahan adalah : massa (kg) dibagi volume (m3)
Viskositas Zat Cair



Daftar Alat
(untuk 2 kelompok kerja)
• Beaker 600 ml dengan lubang di bawah (2 buah)
• Beaker 600 ml (2 buah)
• Beaker 800 ml dengan lubang di bawah (1 buah)
• Beaker 800 ml (1 buah)
• Beaker plastik (3 buah)
• Pipa kaca 3 mm, 4 mm, 5 mm dengan prop karet untuk minyak kelapa (2 set)
• Pipa kaca 3 mm dengan prop karet untuk parafin (2 buah)
• Stopwatch (2 buah)
• Meteran (2 buah)
• Rak untuk simpan pipa-pipa (1 buah)
• Jangka sorong (1 buah)


Cara Kerja
Lakukan percobaan berikut ini dengan minyak kelapa memakai tiga pipa yang berbeda, yaitu pipa dengan diameter ˜ 3 mm, ˜ 4 mm dan ˜ 5 mm dan dengan parafin memakai hanya satu pipa, yaitu pipa dengan diameter ˜ 3 mm.
1. Pasang pipa yang akan dipakai pada gelas beaker yang mempunyai lubang di bawah. Susun gelas Beaker dengan pipa pada meja di atas dan gelas beaker yang sama besar pada meja di bawah sesuai dengan gambar 8.1 sebelah kiri.
2. Isi gelas beaker di atas dengan cairan yang akan diukur (minyak kelapa / parafin) lebih tinggi daripada batas awal pengukuran. Batas awal pengukuran adalah tanda 400 ml untuk minyak kelapa dan tanda 500 ml untuk parafin.
3. Amatilah cairan yang turun dan hidupkan stopwatch ketika permukaan cairan berada pada batas awal pengukuran. Matikan stopwatch ketika permukaan cairan berada pada batas akhir pengukuran. Batas akhir pengukuran adalah tanda 150 ml untuk minyak kelapa dan tanda 200 ml untuk parafin.
4. Tunggu sampai cairan berhenti mengalir ke bawah, lalu ukurlah jarak antara dasar gelas atas dan permukaan cairan pada gelas atas (hmin) dan jarak antara dasar gelas bawah dan permukaan cairan pada gelas bawah (hakhir).
5. Ukurlah tinggi antara dasar gelas bawah dan dasar gelas atas hKayu
6. Pindahkan cairan dari gelas bawah ke dalam gelas cadangan dengan cara yang bersih ! Cara yang bersih: Sambil gelas atas diangkat, gelas bawah ditukar dengan gelas cadangan tanpa memberikan kesempatan untuk cairan menetes ke meja. Cairan dari gelas bawah dituangkan ke dalam gelas cadangan, lalu gelas ditukar lagi.
7. Percobaan dilakukan dua kali dengan tiap-tiap pipa dan tiap-tiap cairan yang dipakai.
8. Percobaan diulangi dengan pipa yang lain sesuai tugas di atas. Untuk cairan yang lain, pakai gelas-gelas dan pipa-pipa yang lain !
9. Tentukan jarak h150ml antara dasar gelas dan tanda volume 150 ml dan jarak h400ml antara dasar gelas dan tanda volume 400 ml pada gelas atas yang dipakai untuk mengukur minyak kelapa. Tentukan besar h200ml dan h500ml pada gelas atas yang dipakai untuk mengukur parafin.
10. Tentukan besar viskositas dari masing-masing pengukuran dan viskositas rata-rata dari masing-masing cairan yang dipakai. Bandingkan hasil nilai viskositas yang didapatkan dengan menggunakan pipa yang mempunyai diameter yang berbeda.

Download :

Modul Praktikum Fisika Dasar 1

Lensa





• Bangku optik terdiri dari 2 rel presisi 50 cm yang disambungkan dengan penyambung rel dan satu pasang kaki rel 1 buah
• Penjepit rel sebagai pemegang alat di atas rel presisi 5 buah
• Lampu dengan tiang 1 buah
• Lensa 50 mm 2 buah
• Pemegang slide 1 buah
• Slide panah 1 buah
• Layar transparan 1 buah


Tata laksana percobaan
Dalam percobaan ini kita memakai sebuah bangku optik / rel presisi dengan rakitan seperti diperlihatkan dalam gambar 7.7. Pada bangku optik telah tersedia satu sumber cahaya untuk menyinari benda percobaan. Cahaya dari sumber cahaya (lampu) melewati sebuah lensa kondensor. Fungsi dari lensa kondensor untuk mengumpulkan cahaya sehingga lebih banyak cahaya yang mengenai benda percobaan. Dari benda percobaan (lubang bentuk panah) cahaya melewati lensa yang diukur jarak fokusnya dan kemudian cahaya mengenai satu layar putih. Semua komponen terpasang pada penjepit rel dan dapat digeserkan. Pada penjepit masing-masing ada panah penunjuk yang menunjukkan posisi dari komponen itu sehingga jarak-jarak antara berbagai komponen bisa diukur dengan mudah. Sebelum percobaan dimulai, lampu, lensa kondensor dan benda diatur pada posisi yang tepat sehingga seluruh benda terkena cukup banyak cahaya. Posisi dari tiga bagian ini tidak perlu diubah lagi selama percobaan dilakukan. Aturlah terlebih dahulu suatu jarak L tertentu antara benda dan layar. Pada setiap jarak L terdapat empat cara untuk menentukan jarak fokus f, berarti pada setiap jarak L terdapat empat nilai f dari berbagai cara ukur yang dijelaskan di bawah. Lakukan semua cara pengukuran f untuk 6 nilai L yang berbeda antara L ˜ 23 cm dan 50 cm. Tulislah seluruh hasil ukur serta hasil perhitungan nilainilai f ke dalam satu tabel. Bandingkanlah nilai-nilai f yang didapatkan. Apakah semua hasil sama atau berbeda (jauh) ? Cara mana di antara empat cara ini yang paling baik (teliti) untuk menentukan jarak fokus lensa ? Berapa besar hasil ratarata untuk jarak fokus f ? Empat cara untuk menentukan jarak fokus f pada setiap jarak L terdapat dari teori di atas sbb.:
1. Atur posisi lensa sedemikian rupa sehingga terdapat bayangan yang jelas pada layar. (Hal ini dilakukan tanpa mengubah posisi layar atau posisi benda yang sebelumnya telah diatur pada jarak L tertentu.) Cari bayangan yang lebih besar dulu. (Lensa lebih dekat dengan benda.) Ukurlah jarak benda S1 dan jarak bayangan S1′. Dari S1 dan S1′ jarak fokus f dihitung dengan (7.5).
2. Lalu dengan posisi lensa yang sama ukur tinggi bayangan B’ yang terbentuk. Dari besar bayangan dan besar benda, pembesaran M bisa dihitung. Dari pembesaran M dan besar S1′ jarak fokus f bisa ditentukan dengan (7.8).
3. Dengan posisi lensa dan posisi layar yang sama (L yang sama) terdapat posisi lensa kedua yang memberikan bayangan yang jelas sesuai dengan teori di atas. Geserkan lensa dan cari posisi lensa kedua ini juga dan tentukan S2 dan S2′. Tentukan jarak fokus f dari S2 dan S2′ dengan (7.5).
4. Dari jarak antara dua posisi lensa tersebut besar e bisa ditentukan. (Misalnya dengan menghitung e = S1 – S2 ). Cari jarak fokus f dari besar e dan besar L dengan (7.6). Pada posisi lensa kedua (bayangan diperkecil), kita tidak memakai persamaan (7.8).