Tampilkan postingan dengan label Pengukuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengukuran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

Aliran Fluida

 Prosedur
Alat
~ ventury meter
~ orifice
~ manometer (pipa U)
~ rotameter / flow meter
~ water meter

Bahan
~ air raksa (Hg)
~ air mengalir pada pipa (bertekanan)
~ udara mengalir dalam pipa

Cara kerja

Ventury meter (untuk air)
~ Isikan air raksa pada manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar
~ Hubungkan ujung-ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) dan pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter, menggunakan pipa plastik. Pipa plastik harus penuh terisi air.
~ Periksa dan catat beda tinggi (H) permukaan air raksa pada manometer.
~ Ukur diamater pipa inlet (A1) dan pipa tenggorokan (A2).
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet (V1), dengan rumus : 2 gH (?1 – ?) V1 = A2 —————-v ? (A12 – A22) dimana : ?1 = massa jenis dalam pipa U ? = massa jenis fluida yang diukur A = luas penampang
~ Hitung pula debit air pada pipa tersebut (debit teoritis). Debit sesungguhnya adalah debit teoritis dikalikan koiefisien koreksi (cd = 0.97) 3.2. Venturymeter (untuk gas)
~ Isikan air raksa pada 2 (dua) buah manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar.
~ Hubungkan satu ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) venturymeter, menggunakan pipa plastik
~ Lakukan hal yang sama pada pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter.
~ Periksa dan catat beda tinggi permukaan air raksa pada kedua manometer tersebut.
~ Ukur diamater pipa inlet dan pipa tenggorokan..
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet, dengan pendekatan rumus : 3.3. Rotameter / flow meter (untuk udara)
~ Letakan tabung rotameter secara vertical. Pastikan bola (pelampung) berada dibawah dan pada posisi skala 0 (nol).
~ Hubungkan (menggunakan pipa plastik) ujung rotameter dengan pipa udara yang akan diukur.
~ Bila kecepatan / kapasitas hembus yang akan diukur, pipa dihubungkan dengan ujung rotameter bagian bawah. Sebaliknya, bila kapasitas isap, pipa dipasang pada ujung atas rotameter.
~ Baca ketinggian bola (pelampung) pada rotameter. Baca dan catat kapasitas udara yang mengalir, dengan bantuan table khusus.
~ Bila tidak tersedia table, maka perlu dilakukan pengukuran :
~ Luas tabung (At) rotameter
~ Luas pelampung (Af)
~ Volume pelampung (Vf)
~ Berat jenis pelampung (Wf)
~ Berat jenis fluida (udara) yang mengalir (Wff)
~ Selanjutnya hitung debit fluida dengan pendekatan rumus :

Aliran Fluida


Prosedur

Alat
~ bola pingpong
~ kapas
~ kompas / wind direction
~ stop watch
~ meteran
~ weir
~ anemometer

Bahan
~ air mengalir
~ udara bergerak

Cara kerja

1. Dye test (untuk air)
~ tentukan saluran air (misal : parit). Pilih yang lurus dan datar.
~ Ukur sepanjang saluran dengan panjang tertentu (s) dan berilah tanda “awal” pada bagian hulu dan tanda “akhir” pada bagian hilir.
~ Celupkan bola pingpong tepat pada tanda “awal”, dan lepaskan.
~ Tunggu sampai dengan bola pingpong tiba tepat di tanda “akhir”. Catat waktu tempuh bola pingpong (t).
~ Hitung kecepatan (v) aliran dengan rumus : v = s / t
~ Selanjutnya ukur kedalaman air dan lebar saluran.
~ Hitung luas penampang basah (A) saluran dan kapasitas / debit air (Q). Dimana Q = V.A.

2. Fly cotton (untuk udara)
~ Tentukan arah aliran / gerakan udara, dengan cara menerbangkan kapas. Gunakan kompas atau wind direction untuk menentukan arah sesuai mata-angin.
~ Ukur memanjang aliran sepanjang tertentu (j), dan tentukan titik awal dan titik akhir.
~ Lepaskan beberapa helai kapas tepat di titik awal. Biarkan terbang sampai dengan tiba dititik akhir, catat waktu tempuh (w).
~ Hitung kecepatan aliran udara (k), dengan rumus : k = j / w

3. Weir (untuk kapasitas air)
~ Pilih weir yang sesuai (segiempat, segitiga, trapezium).
~ Pasang pada saluran air yang akan diukur. Usahakan saluran datar, aliran tidak bergejolak, dan memungkinkan ada “terjunan” bila ada bendung (weir).
~ Ukur : lebar mulut weir (B), sudut weir (?), tinggi muka air dari dasar mulut weir (H).
~ Hitung debit air, dengan rumus sbb. : * Weir dengan sudut 90o (segiempat) Q = 2/3 .B.v 2.g.H3 * Weir dengan sudut 35o – 120o (segitiga) Q = 8 /15 . tg (?/2) . v 2.g.H5 3.4. Anemometer (untuk udara)
~ Hidupkan power anemometer (posisi saklar on).
~ Pilih skala kecepatan angin yang sesuai dengan menggeser switch velocity.
~ Arahkan rotor / kipas pada posisi datangnya angin. Arah posisi dikatakan tepat apabila putaran kipas maksimal.
~ Baca skala kecepatan angin. Bila jarum penunjuk (angka digital) mentok, pindahkan switch velocity ke posisi angka lebih tinggi.
~ Catat kecepatan angin dan arah datangnya angin. Matikan power anemometer (off).