Jumat, 01 Juni 2012

Modul Fisika SMA


Info :
Berikut ini saya postingkan modul fisika SMA/MA/SMK hasil karya Drs. Pristiadi Utomo, M.Pd. Semoga modul ini berguna dan menambah pengetahuan, sehingga dapat menjadi referensi tambahan dalam proses belajar-mengajar di sekolah.
Download :
SMA 10
FISIKA KELAS X BAB 1 PENGUKURAN BERBAGAI BESARAN
FISIKA KELAS X BAB 2 VEKTOR
FISIKA KELAS X BAB 3 GERAK
FISIKA KELAS X BAB 4 GERAK MELINGKAR BERATURAN
FISIKA KELAS X BAB 5 PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

FISIKA KELAS X BAB 6 ALAT-ALAT OPTIK
FISIKA KELAS X BAB 7 KALOR DAN PERPINDAHANNYA
FISIKA KELAS X BAB 8 KONSEP KELISTRIKAN
FISIKA KELAS X BAB 9 GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
SMA 11
FISIKA KELAS XI BAB 1 KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

FISIKA KELAS XI BAB 2 HUKUM NEWTON TENTANG GERAK DAN GRAVITASI
FISIKA KELAS XI BAB 3 GAYA GESEK DALAM DINAMIKA
FISIKA KELAS XI BAB 4 GERAK GETARAN
FISIKA KELAS XI BAB 5 ENERGI USAHA DAN DAYA
FISIKA KELAS XI BAB 6 IMPULS DAN MOMENTUM
FISIKA KELAS XI BAB 7 MOMENTUM SUDUT DAN ROTASI BENDA TEGAR
FISIKA KELAS XI BAB 8 FLUIDA
FISIKA KELAS XI BAB 9 TERMODINAMIKA
FISIKA KELAS XI BAB 10 OPTIKA GEOMETRIK
SMA 12
FISIKA KELAS XII BAB 1 GEJALA GELOMBANG
FISIKA KELAS XII BAB 4 LISTRIK STATIS
FISIKA KELAS XII BAB 10 RELATIVITAS

Aliran Fluida

 Prosedur
Alat
~ ventury meter
~ orifice
~ manometer (pipa U)
~ rotameter / flow meter
~ water meter

Bahan
~ air raksa (Hg)
~ air mengalir pada pipa (bertekanan)
~ udara mengalir dalam pipa

Cara kerja

Ventury meter (untuk air)
~ Isikan air raksa pada manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar
~ Hubungkan ujung-ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) dan pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter, menggunakan pipa plastik. Pipa plastik harus penuh terisi air.
~ Periksa dan catat beda tinggi (H) permukaan air raksa pada manometer.
~ Ukur diamater pipa inlet (A1) dan pipa tenggorokan (A2).
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet (V1), dengan rumus : 2 gH (?1 – ?) V1 = A2 —————-v ? (A12 – A22) dimana : ?1 = massa jenis dalam pipa U ? = massa jenis fluida yang diukur A = luas penampang
~ Hitung pula debit air pada pipa tersebut (debit teoritis). Debit sesungguhnya adalah debit teoritis dikalikan koiefisien koreksi (cd = 0.97) 3.2. Venturymeter (untuk gas)
~ Isikan air raksa pada 2 (dua) buah manometer pipa U. Letakan manometer dalam posisi mendatar.
~ Hubungkan satu ujung pipa U ke lubang pipa inlet (pipa besar) venturymeter, menggunakan pipa plastik
~ Lakukan hal yang sama pada pipa tenggorokan (pipa kecil) venturymeter.
~ Periksa dan catat beda tinggi permukaan air raksa pada kedua manometer tersebut.
~ Ukur diamater pipa inlet dan pipa tenggorokan..
~ Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet, dengan pendekatan rumus : 3.3. Rotameter / flow meter (untuk udara)
~ Letakan tabung rotameter secara vertical. Pastikan bola (pelampung) berada dibawah dan pada posisi skala 0 (nol).
~ Hubungkan (menggunakan pipa plastik) ujung rotameter dengan pipa udara yang akan diukur.
~ Bila kecepatan / kapasitas hembus yang akan diukur, pipa dihubungkan dengan ujung rotameter bagian bawah. Sebaliknya, bila kapasitas isap, pipa dipasang pada ujung atas rotameter.
~ Baca ketinggian bola (pelampung) pada rotameter. Baca dan catat kapasitas udara yang mengalir, dengan bantuan table khusus.
~ Bila tidak tersedia table, maka perlu dilakukan pengukuran :
~ Luas tabung (At) rotameter
~ Luas pelampung (Af)
~ Volume pelampung (Vf)
~ Berat jenis pelampung (Wf)
~ Berat jenis fluida (udara) yang mengalir (Wff)
~ Selanjutnya hitung debit fluida dengan pendekatan rumus :

Aliran Fluida


Prosedur

Alat
~ bola pingpong
~ kapas
~ kompas / wind direction
~ stop watch
~ meteran
~ weir
~ anemometer

Bahan
~ air mengalir
~ udara bergerak

Cara kerja

1. Dye test (untuk air)
~ tentukan saluran air (misal : parit). Pilih yang lurus dan datar.
~ Ukur sepanjang saluran dengan panjang tertentu (s) dan berilah tanda “awal” pada bagian hulu dan tanda “akhir” pada bagian hilir.
~ Celupkan bola pingpong tepat pada tanda “awal”, dan lepaskan.
~ Tunggu sampai dengan bola pingpong tiba tepat di tanda “akhir”. Catat waktu tempuh bola pingpong (t).
~ Hitung kecepatan (v) aliran dengan rumus : v = s / t
~ Selanjutnya ukur kedalaman air dan lebar saluran.
~ Hitung luas penampang basah (A) saluran dan kapasitas / debit air (Q). Dimana Q = V.A.

2. Fly cotton (untuk udara)
~ Tentukan arah aliran / gerakan udara, dengan cara menerbangkan kapas. Gunakan kompas atau wind direction untuk menentukan arah sesuai mata-angin.
~ Ukur memanjang aliran sepanjang tertentu (j), dan tentukan titik awal dan titik akhir.
~ Lepaskan beberapa helai kapas tepat di titik awal. Biarkan terbang sampai dengan tiba dititik akhir, catat waktu tempuh (w).
~ Hitung kecepatan aliran udara (k), dengan rumus : k = j / w

3. Weir (untuk kapasitas air)
~ Pilih weir yang sesuai (segiempat, segitiga, trapezium).
~ Pasang pada saluran air yang akan diukur. Usahakan saluran datar, aliran tidak bergejolak, dan memungkinkan ada “terjunan” bila ada bendung (weir).
~ Ukur : lebar mulut weir (B), sudut weir (?), tinggi muka air dari dasar mulut weir (H).
~ Hitung debit air, dengan rumus sbb. : * Weir dengan sudut 90o (segiempat) Q = 2/3 .B.v 2.g.H3 * Weir dengan sudut 35o – 120o (segitiga) Q = 8 /15 . tg (?/2) . v 2.g.H5 3.4. Anemometer (untuk udara)
~ Hidupkan power anemometer (posisi saklar on).
~ Pilih skala kecepatan angin yang sesuai dengan menggeser switch velocity.
~ Arahkan rotor / kipas pada posisi datangnya angin. Arah posisi dikatakan tepat apabila putaran kipas maksimal.
~ Baca skala kecepatan angin. Bila jarum penunjuk (angka digital) mentok, pindahkan switch velocity ke posisi angka lebih tinggi.
~ Catat kecepatan angin dan arah datangnya angin. Matikan power anemometer (off).

Pengukuran Suara

Prosedur
1. Alat
~ Sound level meter (SLM) merk Rion NA/24.
~ Grafik koreksi kebisingan

2. Bahan
~ Suara pada ruang tertentu

3. Cara kerja
~ Kalibrasikan SLM dengan menggeser saklar function dan range ke cal sampai pada posisi muncul 94,0 dBA
~ Posisikan saklar function ke posisi A dan posisikan juga range pada posisi yang paling rendah
~ Ukur bising latar belakang / back ground noise
~ Ukur bising setelah sumber bunyi hidup (air kran)
~ Gunakan grafik koreksi kebisingan ketika selisih baca antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup kurang dari 10, dapat diketahui nilai kebisingan sesungguhnya yaitu nilai sumber bunyi hidup – hasil koreksi.
~ Jika selisih antara back ground noise dengan sumber bunyi hidup lebih besar dari 10 maka menunjukkan intensitas dari sumber bunyi itu sendiri / kebisingan sesungguhnya = sumber bunyi hidup.

Pengukuran Cahaya

Prosedur
1. Alat
~ Lux meter
~ Alat tulis
~ Kalkulator

2. Bahan
~ Tempat kerja yang akan diukur penerangannya

3. Cara kerja
~ Kalibrasikan alat sehingga pada saat mengukur alat sudah terkalibrasi.
~ Jarak antara pengukur dengan alat 60-90 cm
~ Tinggi alat dari bagian atas permukaan lantai 0,8 m / 8,5 cm
~ Pakaian pengukur berwarna gelap, untuk menghindari adanya pantulan.
~ Deskripsikan tempat yang akan diukur (Panjang ruangan; Lebar ruangan; Tinggi ruangan; Warna dinding; Warna dinding; Warna lantai; Warna atap; Warna pintu; Warna jendela; Cuaca; Jumlah lampu yang ada; Warna perabot; Ventilasi; Jenis dan merk lampu; Daya lampu; dll)
~ Kapan pemeliharaan atau perawatan lampu terakhir
~ Tentukan titik-titik ukurnya secara tepat dan benar
~ Pada saat mengukur semua penghalang dibuka
~ Bila pengukuran di tempat kerja menggunakan system penerangan lampu pendar, pembacaan hasil pengukuran 5 menit setelah lampu dinyalakan
~ Bila suatu ruangan menggunakan penerangan alam dan buatan, maka pengukuran dilakukan dengan :
~ Ukur lebih dahulu cahaya buatan dan alam, semua penutup masuknya cahaya dibuka dan lampu dinyalakan
~ Mengukur penerangan alam, lampu dimatikan dan penutup yang menghalangi semua dibuka
~ Mengukur penerangan buatan, penerangan campuran dikurangi penerangan alam
~ Catat hasil pengukuran
~ Masukkan hasil pengukuran ke dalam rumus, kemudian
dilakukan perhitungan untuk mendapatkan hasil yang merupakan angka kuat penerangan di tempat tersebut.
~ Melakukan pengukuran minimal 3 kali untuk 1 ruangan untuk mendapatkan nilai rata-ratanya

Pengukuran Kelembaban


1. Alat
~ Hygrometer
~ Sling Psychrometer
~ Mistar skala
~ Psychrochart Whirling tabel
~ Diagram psikrometrik
~ Timbangan analit
~ Cawan
~ Desikator
~ Pemanas (oven)

2. Bahan
~ Air
~ Udara ruangan
~ Tanah
~ Sampah, bahan padat lainnya

3. Cara kerja

3.1. Kelembaban udara
~ Deskripsikan tempat kerja yang akan diukur
~ BILA menggunakan Arsman Angket
~ Basahi Sling Psychrometer pada bagian bola basah
~ Putar Sling Psychrometer searah jarum jam selama 3-5 menit sambil mengelilingi ruangan.
~ Baca skala (Thermometer BB dan BK)
~ Hasil pembacaan Thermometer kering dihimpit dengan angka 100 pada skala kelembaban relatif.
~ Dilihat pada angka pembacaan Thermometer basah terhimpit dengan angka berapa pada skala kelembaban relatif
~ Lihat diagram psikrometrik untuk mengetahui kelembaban absolut, relatif dan juga titik embun.
~ BILA menggunakan hygometer, hygrometer dipasang pada tempat yang akan diukur. Beri air/basahi ujung termometer suhu basah.
~ Biarkan selama periode waktu tertentu
~ Baca termometer pada skala temperatur basah (wet) dan skala kering (dry).
~ Hitung selisih temperatur basah dan kering.
~ Baca tabel kelembaban relativ (RH = relative humidity). Kelembaban adalah angka pada titik koordinat temperatur kering dan selisih basah-kering..
3.2. Kelembaban tanah / zat padat
~ Timbang cawan yang betul-betul kering (misal: a gram)
~ Ambil sejumlah tanah atau zat padat lainnya. Masukkan kedalam cawan, timbang cawan berikut tanahnya dengan neraca analit (misal : x gram).
~ Keringkan dalam oven dalam suhu 105 oC, selama sampai dengan kering sempurna. Sebagai indikasi kalau ditimbang beratnya sudah stabil.
~ Dinginkan dalam desikator (15 menit) Timbang cawan berikut tanahnya (misal : y gram)
~ Hitung kelembabannya dengan rumus : M = berat awal dikurangi berat akhir x 100% Berat awal M = ((x – a) – (y – a)) x 100% (x – a)
~ BILA menggunakan soil tester (analog / digital), caranya cukup dengan menancapkan probe atau elektroda pada tanah yang akan diukur. Biarkan beberapa saat hingga jarum / angka stabil. Baca skala kelembabannya..

Pengukuran Panas

~ Bomb calorimeter
~ Termometer
~ Pemanas
~ Bejana

2. Bahan
~ air
~ sampah (kertas, daun dll)

3. Cara kerja

3.1. Bomb calorimeter
~ sesuai dengan manual masing-masing type dan merk.

3.2. Termometer
~ Timbang sejumlah air (atau zat lainnya) dengan menggunakan neraca massa (misal : k gram)
~ Sejumlah air dimasukan kedalam bejana.
~ Pasang termometer pada air tesebut. Catat suhu awalnya (misal : loC )
~ Panaskan secukupnya, Kemudian catat suhu akhirnya (misal : moC )
~ Hitung jumlah panas (Q) yang digunakan, dengan pendekatan : Q = k x c x (m – l) Joule. Dimana c adalah kalor jenis, dan 1 Joule = 0,24 kalori.